Sudaco memang akrab bagi warga Medan.
Jauh sebelum moda transportasi umum bertambah banyak seperti sekarang –
taksi, becak mesin, dan tentu saja angkot bermerk lain – Sudaco menjadi
sarana transportasi andalan warga Medan, selain becak dayung dan bemo
tentunya. Awalnya, penamaan Sudaco hanya untuk angkot berwarna kuning
saja. Lama kelamaan, hampir semua angkot disebut dengan Sudaco.
Ya, Sudaco memang fenomenal. Tak
berlebihan rasanya menyebutkan mungkin tak ada warga Medan yang tak
mengenal Sudaco. Moda transportasi yang kalau dipaksa bisa mengangkut
hingga 20 penumpang ini dengan mudahnya bisa Anda temukan di Medan.
Malah, saking banyaknya populasinya, Sudaco dituding sebagai salah satu
biang kemacetan di Kota Medan.
Tudingan yang bukan tanpa alasan. Sudaco
memang sering kali slonong boy di jalanan. Padahal, populasi Sudaco di
Medan jumlahnya ribuan unit. Hanya sedikit sopir Sudaco yang patuh pada
rambu lalu lintas. Sisanya bak raja jalanan. Menaik turunkan penumpang
sesukanya, kebut-kebutan sesama sopir, menerobos lampu lalu lintas, bisa
berhenti di mana saja, dan parahnya lagi, si sopir kalau sudah kebelet
bisa pipis di mana saja. Tinggal buka pintu depan kanan, lalu dengan
cueknya si sopir mengencingi roda depan mobilnya sendiri! Selebihnya,
tak usah dijelaskan lagi.
Cukuplah cerita soal perilaku sopir
Sudaco. Kali ini kita hanya ingin membongkar sedikit mengenai asal usul
kata Sudaco. Karena tanpa referensi baku, asal usul kata Sudaco ini lalu
kami coba bakukan dari sejumlah informasi dari mulut ke mulut saja.
Ada yang menyebutkan, kata Sudaco
merupakan singkatan dari kalimat Sumatera Daihatsu Company (Sudaco dan
kemudian dibaca menjadi Sudako). Ini mungkin ada benarnya. Bisa jadi
angkutan umum pertama di Medan menggunakan mobil bermerek Daihatsu
buatan Jepang.
Tercatat Sudaco pertama menggunakan
minibus Daihatsu S38 dengan mesin 2 tak kapasitas 500cc. Di Jepang, type
ini untuk pertama kali dijual pada tahun 1972. Sekarang ini, Daihatsu
type ini sudah jarang terlihat, apalagi yang masih berbentuk Sudaco.
Jenis mobil ini kini banyak digunakan tukang duplikat kunci. Bagi Anda
yang tidak sempat mengenalnya, mungkin olok-olokan nama Daihatsu
Truntung bisa lebih mudah membayangkannya. Dinamakan begitu karena suara
yang keluar dari knalpotnya trungggggg… tung… tung… tung… tung…
Sudaco Daihatsu S38 ini merupakan
modifikasi dari mobil pick up. Bagian belakangnya ditambahkan body
berbahan plat dilengkapi kaca yang bisa digeser di kedua sisinya. Di
belakang, diletakkan dua buah kursi panjang. Pintu masuk belakang
dibiarkan terbuka tanpa penutup. Penumpangnya duduk berhadapan. Saking
sempitnya, lutut penumpang yang berhadapan sering kali terpaksa
bergesekan.
Setelah Daihatsu S38, muncul Daihatsu
Hijet 55 Wide, orang Medan menyebutnya hijet limper limper dan kemudian
diikuti Daihatsu Hijet 1.000. Karena faktor usia, perlahan jenis S38
menghilang dan digantikan dengan minibus keluaran lebih baru.
Trayek pertama kali Sudaco adalah Lin
01, (Lin sama dengan trayek) yang menghubungkan antara daerah Pasar
Merah (Jalan HM. Joni), Jalan Amaliun (via Jalan Ismailiyah) dan
terminal Sambu, terminal pusat pertama angkutan penumpang ukuran kecil
dan sedang di Medan.
Selain berasal dari kalimat Sumatera
Daihatsu Company, ada juga yang menyebutkan Sudaco merupakan singkatan
kata Suzuki, Daihatsu dan Colt (Mitsubishi). Angkutan umum di Medan pada
era tahun 60 hingga 70an didominasi ketiga merk tersebut. Selain
Daihatsu S38, masih ingat kan pada Bemo yang di negeri asalnya disebut
Daihatsu Midget? Tahun 60an hingga 80an, Bemo masih merajai jalanan Kota
Medan. Malah, Bemo pernah diandalkan menjadi transportasi
Medan-Pangkalan Brandan.

Posting Komentar